Kesehatan Mental

Jika kita ditanya, apakah Anda sehat fisik saat ini? YA

Jika kita ditanya, apakah Anda sehat mental saat ini? mmmhhhh….

Paradigma Kesehatan Mental - Unair News

Ini menarik, orang cenderung mudah menjawab pertanyaan tentang kesehatan fisik, namun susah menjawab ketika ditanya tentang kesehatan mental. Menurut pemateri pada acara webinar kesehatan yang diselenggarakan oleh MataGaruda Yogyakarta Sabtu 7 November lalu, literasi kesehatan mental memang lebih rendah daripada literasi kesehatan fisik. Orang cenderung aware terhadap kesehatan fisiknya, namun tidak terlalu memperhatikan apakah mentalnya sehat juga. Webinar kesehatan mental ini sangat penting diikuti karena mengupas berbagai aspek kesehatan mental yang perlu diketahui oleh siapa saja, termasuk mahasiswa.

Mengapa mahasiswa? karena mahasiswa dianggap kelompok yang cukup rentan terganggu kesehatan mentalnya dalam kondisi pandemi ini. Mahasiswa menghadapi tantangan unik dalam kondisi pandemi yang berdampak pada konsekuensi psikologis negatif, seperti cemas, kecewa, frustasi. Dari riset yang dilakukan pemateri webinar ini, dikatakan bahwa 62% problem mahasiswa adalah tidak adanya rutinitas. Ternyata bagi kaum terpelajar, rutinitas itu penting sekali, sehingga ketika kuliah berhenti dan beralih ke kuliah online yang sangat fleksibel, rutinitasnya menjadi terganggu dan timbulah kecemasan yang berlebihan. Bagaimana dengan mahasiswa yang kuliah di luar negeri? faktor utama kecemasan biasanya adalah karena tidak dapat pulang, rasa sepi yang mendalam, tidak ada support dari teman, interaksi dengan supervisor sangat terbatas, dan target penelitian terlambat sementara timeline beasiswa terus berjalan. Kondisi ini menyebabkan mahasiswa sangat tertekan dan bisa berdampak buruk pada kesehatan mental maupun fisiknya.

Nah sebanarnya apa ciri orang yang sehat mental? Menurut WHO, ada empat indikator kesehatan mental.

  1. Mengenali potensi diri
  2. Mampu menghadapi tekanan hidup sehari-hari
  3. Produktif
  4. Mampu berkontribusi/bermanfaat bagi komunitas

Ada satu poin penting dari pemateri yang sangat membekas bagi saya. Seperti ini: tekanan hidup sehari-hari itu sebenarnya selalu ada, tidak hanya dalam kondisi pandemi. Karena dunia ini naturenya adalah tempat dimana kita mendapat tekanan, sehingga wajar jika muncul kecemasan dan kekhawatiran. Namun, most of the stressor itu sebenarnya netral, artinya tekanan hidup itu sebenarnya tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.

Misal, dalam masa pandemi, kuliah di kampus terhenti dan harus belajar dari rumah. Bagi sebagian orang, kondisi ini sangat menekan, bagi orang lain biasa saja, bagi orang yang lain lagi justru sangat menyenangkan. Nah, orang yang sehat mental itu adalah yang mampu menghadapi tekanan hidup, fleksibel dalam menghadapi tekanan hidup, sehingga dalam kondisi apapun produktifitas tetap terjaga.

Yang paling penting adalah SELF STIGMA, karena semua yang terjadi pada diri kita, sebagian besar karena pikiran kita sendiri. Kalau kita sudah mensetting pikiran kita bahwa kita tidak akan mampu menghadapi satu tekanan, maka kemungkinan besar hal itu terjadi juga. Namun jika self stigma kita positif, maka akan muncul gairah hidup yang membuat kita mudah meliuk dalam kondisi apapun.

Bagaimana jika sudah terlanjur cemas? cemas itu normal. Tapi jika kecemasan itu membuat produktifitas terganggu, emosional regulation menjadi tidak balance, maka ini yang harus diatasi. Caranya bagaimana?

  1. Kenali diri. Misalnya, tulis visi besarmu, gantung di dinding untuk mengingatkan apa goal kita, agar kita tidak gampang kendor.
  2. Tetap terubung dengan sumber-sumber support. Keluarga sangat penting perannya untuk merawat kesehatan mental, dengan memberikan dukungan dan CINTA. Kebutuhan akan dicintai ini sangat penting bagi manusia, dan keluarga adalah orang terdekat yang paling mungkin untuk mendukung pemberian asupan cinta ini.
  3. Buat rutinitas, orang yang terbiasa dengan rutinitas dan tiba-tiba rutinitasnya hilang, bisa terganggu kesehatan mentalnya. Maka, ciptakan rutinitasmu sendiri
  4. Untuk mahasiswa, baca motivasi kemuliaan menuntut ilmu, penuhi adab-adab menuntut ilmu. Meskipun kuliah dari rumah, perlu melakukan persiapan juga sebelumnya, misalnya mandi, menggunakan pakaian yang rapi, dan menyisir rambut.
  5. Olahraga dan makanan bergizi
  6. Sensitif terhadap tanda-tanda dari diri sendiri, dan seperti ke poin kedua, tetap terhubung dengan sumber support seperti keluarga dan teman.

Semoga bermanfaat ya ringkasan dari webinar kesehatan mental ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s